Menjual Barang dengan Harga Seikhlasnya

Harga Seikhlasnya?

Stadz mau tanya, ada kasus orang menjual barang, tapi dia tidak memberikan harga pastinya. Dia hanya bilang harga seikhlasnya.

Kalo menurut ana, hal ini adalah ghoror karena ketidakjelasan harga barang. Apakah pendapat ana ini benar stadz?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Diantara syarat jual beli adalah adanya kejelasan dalam harga objek yang dijual. Karena jika harga tidak jelas, termasuk dalam kategori jual beli gharar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim 3881, Nasai 4535, dan yang lainnya).

Dan pengertian gharar sebagaimana yang dinyatakan Syaikhul Islam,

الغرر هو المجهول العاقبة

“Gharar adalah Jual beli yang tidak jelas konsekuensinya.” (al-Qawaid an-Nuraniyah, hlm. 116)

Dan inti dari gharar adalah adanya jahalah (ketidak jelasan), baik pada barang maupun harga barang.

Disamping melanggar hadis tentang gharar, menjual barang dengan harga tidak jelas juga melanggar hadis larangan menjual barang dengan 2 harga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang dua jual beli dalam satu jual beli.” (HR. Ahmad 9834, Nasai 4649, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Mengenai makna hadis di atas, Turmudzi menuliskan,

وقد فسر بعض أهل العلم قالوا بيعتين فى بيعة. أن يقول أبيعك هذا الثوب بنقد بعشرة وبنسيئة بعشرين ولا يفارقه على أحد البيعين فإذا فارقه على أحدهما فلا بأس إذا كانت العقدة على واحد منهما

Sebagian ulama menafsirkan, bahwa dua transaksi dalam satu akad, bentuknya, penjual menawarkan: “Baju ini aku jual ke anda, tunai 10 dirham, dan jika kredit 20 dirham. Sementara ketika mereka berpisah, belum menentukan harga mana yang dipilih. Jika mereka berpisah dan telah menentukan salah satu harga yang ditawarkan, dibolehkan, jika disepakati pada salah satu harga. (Jami’ at-Turmudzi, 5/137).

Dan alasan dari larangan ini adalah harganya tidak jelas.

Karena itulah, para ulama menegaskan, jual beli dengan harga tidak jelas, termasuk transaksi yang terlarang, dan statusnya batal.

Ad-Dasuqi dalam Hasyiyahnya – fiqh Maliki – mengatakan,

لا بد من كون الثمن والمثمن معلومين للبائع والمشتري وإلا فسد البيع

Harga dan barang harus jelas, diketahui penjual dan pembeli. Jika tidak maka transaksinya batal. (Hasyiyah ad-Dasuqi, 3/15).

Ibnu Abidin – ulama Hanafi – mengatakan,

وشرط لصحته معرفة قدر مبيع وثمن

Syarat sahnya jual beli adalah diketahuinya ukuran barang dan harga barang. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 4/529).

Ibnu Utsaimin mengatakan,

جهالة الثمن تؤدي إلى بطلان البيع ؛ لأن من شروط البيع العلم بالثمن

Ketidak jelasan harga menyebabkan batalnya transaksi jual beli. Karena bagian dari syarat jual beli adalah diketahuinya harga. (as-Syarh al-Mumthi’, 8/233)

Alasan ketidak jelasan harga ini dilarang adalah karena bisa memicu sengketa.

Ada kaidah mengatakan,

الجهالة إنما تفيد الفساد إذا كانت مفضية إلى النزاع المشكل

Jahalah (ketidak jelasan) yang menyebabkan jual belinya batal adalah jahalah yang menyebabkan terjadinya sengketa.

Menjual Barang dengan Harga Seikhlasnya

Menjual barang dengan harga seikhlasnya di tempat kita, ada 2 keadaan,

Pertama, baru sebatas tawaran dari penjual

Artinya, penjual membuka kesempatan bagi pembeli untuk menawar dengan harga seikhlasnya.

Karena itulah, ketika pembeli menyampaikan harga tertentu, penjual belum tentu ridha. Sehingga terkadang masih terjadi tarik ulur, tawar menawar.

Misalnnya, Mukidi menawarkan iPhone 6 bekas miliknya.

Mukidi, “Mengenai harga terserah kamu Jo… seikhlasnya.”

Paijo, “Kalo 3jt mau gak?”

Mukidi, “Tambah dikit lah…”

Dialog ini meunjukkan bahwa harga seikhlasnya yang ditawarkan mukidi belum final. Karena itu, masih ada tawar menawar.

Transaksi ini dibolehkan, karena hakekatnya harganya jelas, yaitu harga yang disepakati kedua pihak.

Kedua, harga seikhlasnya pembeli dan tidak ada pilihan lain

Harga itu putus. Sehingga ketika Paijo membayar berapapun, tidak lagi terjadi kesepakatan.

Bisa jadi harganya terlalu mahal, atau terlalu murah. Sehingga bisa menimbulkan sengketa di belakang.

Transaksi ini yang menyebabkan jual belinya menjadi tidak sah. Karena bisa memicu sengketa.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

=======================================

Disalin dari http://pengusahamuslim.com/5708-menjual-barang-dengan-harga-seikhlasnya.html

Pinjaman Bank, Bukan Uang Riba?

Pinjaman Bank

Bagaimana hukum usaha yg modalnya hasil pinjaman bank? Ktika usaha ini berkembang, apakah hasilnya haram? Termasuk rumah KPR bank, apakah berarti rumah itu haram?kpr syariah

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pertama, kita perlu memahami pengertian harta riba

Riba secara bahasa artinya tumbuh.

Allah berfirman dalam al-Qur’an tentang keutamaan sedekah,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah membinasakan riba dan menumbuhkan sedekah. (QS. Al-Baqarah: 276)

Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan riba dengan,

فضل مال بلا عوض في معاوضة مال بمال

Kelebihan harta tanpa ada ganti hasil dalam transaksi komersial antara harta dengan harta (Hasyiyah Ibnu Abidin, 5/169).

Pengertian riba di atas, mencakup riba fadhl, yang bentuknya penambahan dalam tukar menukar komoditas ribawi  maupun riba nasiah, dalam bentuk penambahan yang disyaratkan untuk mendapatkan penundaan pembayaran utang.

Uang Pinjaman Bank

Ketika ada orang yang meminjam uang di bank, dari sudut pandang nasabah, hakekatnya dia tidak mengambil uang riba. Namun dia mengambil uang dari pihak yang melakukan transaksi riba.

Sebagai ilutrasi,

Di masa awal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, orang yahudi menjadi penguasa perekonomian Madinah. Mereka mendominasi pasar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melakukan transaksi dengan mereka. Ada yang jual beli, dan bisa dipastikan, ada juga transaksi utang piutang.

Salah satu karakter orang yahudi, mereka suka mengambil riba dan makan harta orang lain dengan cara yang bathil. Allah ceritakan dalam al-Quran,

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا . وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ

“Disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisa: 160 – 161)

Ketika kaum muslimin berutang kepada orang yahudi, mereka tidak disebut mengambil harta riba yang statusnya haram. Tapi mereka mengambil harta dari orang yang melakukan transaksi riba.

Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ لأَهْلِهِ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, baju perang beliau masih digadaikan kepada orang Yahudi sebagai jaminan utang tiga puluh sha’ gandum untuk nafah keluarganya.” (HR. Bukhari 2916, Nasai 4668, dan yang lainnya).

Demikian pula ketika seorang muslim pinjam uang di bank, uang yang dia terima halal. Bagi dia sebagai peminjam, ini bukan uang riba. Meskipun dari bank, ada kemungkinan uang itu adalah uang riba.

Karena itu, usaha dan hasil yang dia dapatkan halal. Karena modal yang dia gunakan halal.

Bukan Memotivasi Pinjam Bank

Tulisan ini sama sekali bukan memotivasi pembaca untuk mencari pinjaman dari bank. Meminjam di bank, berarti melakukan transaksi riba dengan bank. Karena pada saat meminjam bank, dia menyetujui nota kesepakatan adanya penambahan ketika pelunasan (bunga). Dan itu riba.

Inilah yang menjadi masalah ketika seseorang meminjam uang di bank atau rentenir. Dia menyepakati transaksi riba. Meskipun riba itu belum diberikan pada saat dia menerima pinjaman. Tapi dia telah berkomitmen, dirinya akan memberikan riba ketika pengembalian.

Orang yang melakukan kesepakata demikian, mendapat ancaman hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama.” (HR. Muslim 4177)

Ketika seseorang meminjam uang di bank, dia melakukan dua kesalahan yang diancam dalam hadis di atas,

Pertama, ketika meminjam dia menyepakati transaksi riba.

Kedua, ketika mengembalikan, dia memberi makan riba.

Kemudian artikel ini hanya meluruskan pemahaman bahwa uang yang didapat dari pinjaman bank adalah uang riba. Sehingga turunan dari uang ini, semuanya haram. Padahal tidak demikian. Justru di posisi nasabah yang meminjam, dia akan memberikan riba kepada bank. Bukan yang menerima riba.

Contoh Salah Paham

Salah satu contoh pengaruh kesalah-pahaman terkait pinjaman bank, ada seorang anak yang merasa resah dengan kehalalan nafkah yang diberikan ortunya, gara-gara ortunya berbisnis dengan modal dari bank. Si anak merasa, uang ortunya dan semua hasil bisnis ortunya adalah riba, karena hasil dari pinjaman bank.

Ada juga yang merasa bingung dengan status rumah KPR. Apakah itu berarti rumah haram, tidak boleh ditempati juga tidak boleh dijual. Karena dia beli dengan dana pinjaman bank.

Bagi yang Sudah Terlanjur

Bagi anda yang telah terlanjur pinjam bank, baik untuk modal maupun untuk konsumtif, seperti rumah dan kendaraan, sebisa mungkin agar segera dilunasi, dan komitmen untuk tidak semakin memperparah bunganya. Karena ini berarti semakin banyak memberi makan riba kepada bank.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
===========================================
Disalin dari http://pengusahamuslim.com/4744-pinjaman-bank-bukan-uang-haram.html

Kisah Resgin-nya Karyawan Bank Syariah

Memilih Keluar dari Bank Syariah

Berikut kisah seorang karyawan yang memutuskan keluar dari tempat kerjanya karena tidak tahan lagi dengan berbagai penyimpangan syariah yang dilakukan bank syariah tempat kerjanya.

resign karyawan bank
credit https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2016/02/25/670538/670×335/penyebab-perbankan-syariah-indonesia-keok-dari-malaysia-versi-ojk.png

Artikel ini pernah terbit di Majalah Pengusaha Muslim Indonesia

Tekadku sudah bulat: keluar dari bank syariah tempatku bekerja, dan kini aku di ruangan atasanku untuk menyerahkan surat pengunduranku. Aku tidak peduli lagi ketika atasanku mencoba mempengaruhiku agar aku kembali berpikir ulang. Alhamdulillah. Permohonan pengunduranku, yang kuajukan tiga bulan sebelumnya, akhirnya disetujui. Per November 2008 aku secara resmi resign dari tempat kerjaku.

Bekerja di bank merupakan keinginan banyak anak muda. Termasuk aku. Aku memilih bekerja di bank syariah, antara lain karena berharap mendapatkan harta barokah, halal, dan juga bisa berdakwah, mengedukasi umat mengenai pentingnya mencari harta yang halal dan betapa bahaya dan besarnya dosa riba. Tapi aku memilih pindah karena yang kuimpikan tidak sesuai dengan kenyataan.

“Kamu jangan gegabah, Mir. Kenapa kamu malah resign. Saya nilai, kinerja kamu bagus. Kita di sini kan untuk berdakwah,” kata atasanku ketika aku menghadapnya untuk menyerahkan surat permohonanku.

Berdakwah? Apa yang kualami sungguh berbeda dengan yang dia katakan. Aku mencoba melakukan hal-hal kecil di kantorku yang kuyakini kebenarannya. Meja makan di kantor kupisahkan. Yang untuk pegawai pria sendiri. Terpisah dengan meja makan pegawai perempuan. Tapi meja-meja makan itu dikembalikan ke posisi semula. Di kantorku ada lebih dari satu toilet. Aku mengusulkan agar satu toilet khusus untuk karyawati dan toilet lainnya untuk karyawan. Tapi aku malah dicemooh.

Aku pun mencoba menyampaikan hal-hal yang lebih prinsip. Bukan sekadar hal-hal remeh itu. Misalnya, aku pernah mengingatkan atasanku, dalam sebuah briefing pagi, bahwa hadis yang ia sampaikan itu lemah, sebagaimana pernah kubaca. Namun yang kusampaikan menjadi bahan tertawaan.

Aku pun pernah mengingatkan mengenai perlaku yang menurutku keliruannya sudah keterlaluan. Suatu hari aku mengikuti kegiatan outbond yang diselenggarakan oleh kantor pusat dan diikuti oleh karyawan berbagai kantor cabang. Salah satu kegiatan dalam pelatihan itu, trainer mengharuskan kami bergendongan dan berpelukan. Bukan sejenis, tetapi dengan lawan jenis. Aku menyampaikan protes. Tapi tanggapan yang kuterima membuat hatiku sakit.

“Tadi pagi saya dikritik oleh Amir. Katanya haram bersentuhan laki dan wanita. Walaupun prianya di sebelah tembok dan wanitanya di sisi yang lain, kalau hati kotor, ya tetap aja kotor,” kata direktur sumberdaya manusia bank tempat kerjaku, sembari tersenyum.

Aku merasa senyumnya itu mentertawaiku. Seakan aku anak ingusan yang tidak tahu sedikit pun mengenai agama Islam.

Aku mencoba bersabar. Aku membatin, apakah mereka tidak pernah belajar agama Islam? Allahu’alam.

Menurutku, itu belum seberapa dibandingkan apa yang kualami kemudian dalam sebuah pelatihan lainnya. Seorang trainer, yang menurutku paham mengenai syariat Islam, dalam sebuah pelatihan yang kuikuti, menyampaikan sebuah permakluman yang menurutku sudah keterlaluan. Ia menerangkan, sesungguhnya kita belum bisa lepas dari sistem riba. Aku heran, mengapa mereka yang di bertugas di kantor pusat bisa berkata seperti itu.

Hal serupa terjadi dalam kegiatan pembelajaran mengenai zakat yang kuikuti. Kegiatan ini dinamakan basic training yang harus diikuti oleh setiap karyawan di tempat kerjaku. Kegiatan berlangsung seminggu. Materi disampaikan oleh seorang ustad muda. Di belakang namanya ada “Lc”-nya.

Ia menerangkan mengenai zakat profesi serta berbagai qiyas takaran nishabnya. Sampaikan ia pada pejelasan bahwa menurutnya zakat profesi tidak pernah dilakukan di zaman para sahabat.

Aku tidak menyia-nyiakan waktu saat ia memberi kesempatan kepada para peserta untuk bertanya. Aku bertanya mengenai dasarnya menentukan nishab zakat profesi. Ia menjelaskan panjang lebar. Dan akhirnya sampai pada pertanyaanku mengenai hukum zakat profesi.

Aku tidak terlalu puas dengan jawabannya. Aku kembali bertanya. “Ustad, kalau memang zakat profesi itu perkara baru yang tidak pernah dilakukan para sahabat, lantas kenapa kita harus melakukannya?” Jawaban dia membuatku mengelus dada.

“Inilah dia. Ini adalah ciri-ciri salafi, sedikit-sedikit tanya dalil, sedikit-sedikit bid’ah.”

Aku membatin, “Apa salahnya bertanya dalil? Mengapa pula harus dihubung-hubungkan dengan salafi?“

Pengalaman serupa terjadi pada kegiatan pelatihan lainnya. Materi disampaikan seorang ulama aktivis Majelis Ulama Indonesia. Wajahnya sering menghiasi layar kaca. Seorang peserta bertanya kepadanya. “Pak, mengapa di bank syariah lebih banyak karyawan yang tampaknya awam alias hanya sedikit paham agama?”

“Ya, ini memang sebuah pe-er bagi kita. Ketika kita ingin memperkerjakan orang yang paham agama, akan tetapi meraka tidak paham tentang perbankan, ketika kita memperkerjakan orang paham perbankkan untuk menangani urusan oprasional tetapi ia tidak paham syariat. Untuk itu, demi kelancaran, kita memilih yang labih paham masalah perbankkan.” Begitu kira-kira jawaban yang ia sampaikan.

Aku rasa tidak perlu menceritakan secara detil berbagai penyimpangan operasional perbankan syariah, karena perkara ini telah cukup dibongkar habis dan diterangkan para ustad di berbagai kajian mereka. Aku sendiri pun merasa berbagai hal di bank syariah tempat kubekerja tidak lagi sesuai dengan kebenaran yang kuyakini. Bukan saja kegiatannya cenderung meninggalkan syariat. Namun juga tidak islami.

Menurutku, yang kulihat dan kualami belum seberapa. Masih banyak lagi penyimpangan yang menurutku sudah jauh dari operasional perbankkan syariah yang seharusnya. Bahkan syirik, khurafat dan lainya. Yang melakukan memang oknum. Tapi menurutku, oknum-oknum itu justru yang diberi kepercayaan untuk mengemban salah satu amanah syariah agama yang suci. Innalillahi wainnaa ilaihi roji’uun.

Resign dari Bank Syariah

Itulah alasan utamaku untuk memutuskan keluar dari tempat kerjaku.  Oh, ya. Ada kisah kecil lainnya. Ini mengenai bekas atasanku. Ia, yang dipromosikan menjadi kepala cabang di kota lain, suatu hari berkunjung ke bekas kantornya, ya bekas kantorku juga, ya. Kepada rekanku yang masih bekerja di sana, ia mengorek informasi mengenai alasanku resign. Temanku itu menyampaikan kepadaku soal tanggapannya. Katanya, “Amir itu pikirannya terlalu picik. Mana bisa zaman sahabat mau dibawa kepada zaman sekarang.”

Keputusanku membuat dunia kecil di sekitarku bergoyang. Orangtuaku tidak setuju. Tapi akhirnya ia dapat memahami keputusanku. Alhamdulillah. Aku juga diberi istri yang qona’ah. Dia bukan hanya dapat menerima keadaanku. Bahkan  ia mendukung keputusanku. Kami sama-sama bertekad menjauhi harta riba.

Sementara aku mencari pekerjaan lain, kami mencoba melakukan bisnis kecil-kecilan. Berjualan pisang bakar lalu yang kuantar ke warung-warung. Juga mengumpulkan koran-koran bekas untuk dijual. Bahkan aku menjadi tukang ketik, salles handphone sekenan, dan usaha serabutan lain. Aku mencoba mengerjakan apa saja sambil juga melamar kerja.

Tidak mudah. Hari pertama kami berjualan pisang bakar, malamnya aku demam. Warung kami hanya bertahan tiga bulan. Aku tutup karena kehabisan modal. Aku fokus melamar kerja. Tes demi test dan wawancara demi wawacara kulalui. Akhirnya aku diterima bekerja sebagai karyawan tetap perusahaan industri pendukung perusahaan minyak dan gas di luar daerah. Aku meninggalkan istri yang sedang mengandung anak kedua kami selama sebulan untuk mempersiapkan segala keperluan kepindahan kami ke daerah baru. Alhamdulillah, aku masih berkesempatan pulang setiap minggu menemui anak dan istriku. Sekarang, aku dan istriku yang sedang menunggu kelahiran anak ketiga kami.

Orang-orang mengatakan, ini daerah industri. Di tempat baru kami bisa belajar agama lebih baik karena banyak kajian dan para ustad. Istriku pun bekerja menjadi guru di salah satu sekolah Islam. Dia banyak belajar ilmu agama di sana.

Aku ingin mengatakan, tidak semua cerita keluarnya karyawan dari pekerjaan lamanya karena perkara haram lantas mendapatkan pekerjaan baru lebih baik dalam hal penghasilannya. Penghasilanku sekarang tidak seberapa. Jauh lebih kecil ketimbang ketika bekerja di bank syariah. Andaikan seseorang keluar dari perbankkan syariah lalu menjadi jadi lebih kaya, pastilah akan banyak karyawan yang pindah kerja.

Bagiku, ketenangan dan keberkahan-lah yang utama. Jangan takut miskin. Tetaplah bekerja. Biarlah kami miskin harta, tapi kami percaya Allah Subhana wa ta’ala tidak akan pernah menyalahi janjinya. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan janji Allah bisa saja terjadi di dunia atau di akhirat, kelak.***
=========================
Disalin dari http://pengusahamuslim.com/5584-kisah-karyawan-bank-syariah-resign-dari-tempat-kerjanya.html

Hukum Beli Kredit, Jual Tunai

Hukum Beli Kredit, Jual Tunai

Tanya:
Assalamu’alikum..
Ustadz, saya ingin menanyakan.. Bagaimana hukum jual beli rumah atau tanah? Dan bagaimana hukumnya apabila kita beli rmh kemudian rmh tersebut kita byr sebagian ( blm lunas dan tidak kridit di bank)  kemudian kita jual lagi dg harga yg lebih tinggi dari kita beli dan kita mendapat keuntungan dari penjualan rmh yg belum lunas tadi.. Apakah termasuk riba? Trimakasih byk… Wassalam

jual beli kredit
credit http://iragoldrealtor.com/wp-content/uploads/2016/02/DELETE.jpg

M Ali Sadikin

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Skema jual beli seperti yang disampaikan penanya dalam istilah fikih muamalah, dinamakan bai’ tawarruq. Membeli dengan kredit, dan sebelum lunas, barang sudah dijual kembali.

Ada dua bentuk transaksi untuk kasus membeli barang dengan kredit, dan sebelum lunas, barang sudah dijual kembali.

Pertama, bai’ inah [بيع العينة].

Menurut definisi sebagian ulama, yang dimaksud bai’ inah

أن يبيع سلعة بثمن معلوم إلى أجل، ثم يشتريها من المشتري بأقل ليبقى الكثير في ذمته

Menjual barang secara kredit dengan angsuran tertentu, kemudian membeli lagi barang itu secara tunai dengan harga lebih murah, dan sementara utang kredit tetap menjadi tanggungan pembeli. (Subulus Salam, 2/57).

Sebagai ilusrasi

Paijo menjual iPhone kredit seharga 10 jt kepada Bejo. Setelah Bejo menerima barang, Paijo langsung membeli iPhone itu dari Bejo secara tunai dengan harga 8 jt.

Konsekuensi dari transaksi ini

Barang iPhone tetap dibawa Paijo
Bejo pulang dengan membawa uang 8 jt
Bejo memiliki tanggungan mengangsur 10 jt kepada Paijo atas pembelian iPhone secara kredit seharga 10 jt.

Jual beli semacam ini disebut bai’ inah dari kata ainul mal (harta asli), dimana dalam sistem jual beli ini, ainu mal al-bai’ (harta asli penjual) kembali kepada dirinya, dan tidak berpindah ke pembeli. Dalam ilustrasi di atas, iPhone tetap menjadi milik penjual, Paijo. (Subulus Salam, 2/57).

Ada juga yang mengatakan, disebut bai’ inah dari kata i’anah yang artinya pertolongan.

Kedua, bai’ tawarruq [بيع التورق]

Pengertian bai’ tawarruq, sebagaimana keterangan Majma’ al-Fiqh al-Islami, lembaga kajian fikih di bawah Rabithah,

شراء سلعة في حوزة البائع وملكه بثمن مؤجل ، ثم يبيع المشتري بنقد لغير البائع للحصول على النقد –الورق

Membeli barang secara kredit dari penjual, kemudian pembeli menjual kembali secara tunai kepada selain penjual pertama, untuk mendapatkan uang tunai. (Majalah al-Majma’, edisi 15, keputusan no. 5, 11 Rajab 1419 H).

Sebagai ilustrasi

Bejo membeli mobil seharga 80 jt kredit dari Paijo. Angsuran selama 1 tahun, DP 5 jt. Setelah seminggu pemakaian, oleh Bejo, mobil itu dijual ke Dalijo tunai seharga 75 jt.

Konsekuensi transaksi ini:

Mobil menjadi milik Dalijo
Bejo mendapat uang tunai 75 jt
Bejo menanggung utang 80 jt kepada Paijo

Skema jual beli dinamakan tawarruq dari kata al-wariq [الورق] yang artinya uang. Karena tujuan utama jual beli ini adalah mendapatkan uang tunai (Tahdzib Sunan Abi Daud, 5/108).

Kajian Hukum

Pertama, jual beli ’inah

Mayoritas ulama – madzhab hanafiyah, malikiyah, dan hambali – menegaskan bahwa skema jual beli ‘inah sebagaimana di atas hukumnya terlarang.

Diantara dalil yang menunjukkan larangan ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud 3462 dan dishahihkan al-Albani)

Disamping dalil di atas, alasan lain haramnya jual beli ’inah dengan skema di atas, bahwa hakekat skema jual beli di atas adalah transaksi riba. Sementara barang yang ditransaksikan, hanyalah kemuflase.

Dari ilustrasi di atas, transaksi sejatinya BUKAN Paijo menjual iPhone itu kepada Bejo, namun Paijo meminjamkan uang 8 jt kepada Bejo dan dia berkewajiban mengangsur 10 jt kepada Paijo.

Kedua, jual beli tawarruq

Ulama berbeda pendapat tentang hukum jual beli tawarruq.

Sebagian ulama berpendapat, jual beli tawarruq dengan skema di atas, hukumnya terlarang. Ini merupakan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad, dan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qoyim.

Mereka berdalil bahwa bai’ tawarruq termasuk bai’ mudthar (jual beli karena terpaksa). Karena penjual butuh uang, sehingga barang dijual murah. Sementara dalam hadis dinyatakan,

نهى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن بيع المضطر، وبيع الغرر، وبيع الثمرة قبل أن تدرك

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli mudthar (dari orang yang terpaksa), jual beli gharar (ketidak jelasan), dan menjual buah sebelum diketahui kelayakannya. (HR. Abu Daud 731).

Hanya saja, hadis ini adalah hadis lemah sebagaimana keterangan al-Albani, sehingga tidak bisa jadi dalil.

Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa jual beli tawarruq hukumnya mubah. Karena hukum asal jual beli adalah mubah selama tidak ada unsur yang terlarang. Allah berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Dan dalam skema tawarruq tidak ada unsur riba. Tidak sebagaimana jual beli ‘inah yang hakekatnya adalah utang dengan adanya tambahan dalam pelunasan. Dan itu riba.

Diantara yang memfatwakan bolehnya tawarruq adalah Majma’ al-Fiqh al-Islami, lembaga fikih di bawah Rabithah Alam Islami, dalam Muktamar ke-15, pada bulan Rajab 1419 H.

Hal yang sama juga difatwakan Imam Ibnu Baz. Beliau mengatakan,

التورق معاملة معروفة عند أهل العلم ، فيها خلاف بين أهل العلم ، والصواب أنه لا بأس بها

Tawarruq adalah transaksi yang sudah dikenal para ulama. Ada perbedaan pendapat diantara ulama, dan yang benar, jual beli ini dibolehkan. (http://www.binbaz.org.sa/mat/12917).

Kemudian, ada sebagian ulama – sebagaimana keterangan Dr. Muhammad at-Thayar – yang  memberikan syarat bolehnya melakukan jual beli tawarruq,

Pembeli membutuhkan uang, sehingga harus menjual barangnya yang masih dia kredit. Jika tidak membutuhkan, tidak boleh jual beli tawarruq
Pembeli tidak memungkinkan bisa mendapatkan uang dengan cara mubah lainnya. Jika memungkinkan baginya untuk mendapatkan pinjaman uang dengan cara mubah lainnya, tidak boleh melakukan jual beli tawarruq.
Barang yang dibeli harus selesai serah terima dan sudah dipindahkan ke tempat pembeli. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita menjual barang yang baru kita beli, hingga kita memindahkan barang itu ke tempat pembeli,.

Suumber: http://www.mahaja.com/showthread.php?3025-بيع-التورق-صورته-وحكمه

Demikian,

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

=============================
Disalin dari http://pengusahamuslim.com/3968-fikih-muamalah-beli-kredit-jual-tunai.html

KPR, Cara Bodoh Membeli Rumah

KPR, Cara Bodoh Membeli Rumah

Saya menyesal telah melakukannya—semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa saya—setelah saya dapat memahaminya, ternyata yang saya lakukan bertahun-tahun lalu adalah cara bodoh orang membeli rumah dengan kredit bank.

Oleh Budhi Wuryanto*

KPR
credit https://www.finansialku.com/wp-content/uploads/2016/03/Hal-Hal-yang-Wajib-Anda-Tahu-Saat-Mengajukan-KPR.jpg

Membeli rumah dengan kredit jangka panjang dari bank ternyata cara yang bodoh. Saya tidak tahu apakah ratusan bahkan jutaan orang lainnya merasakannya juga. Ataukah malah menganggap keberuntungan, tersebab dengan pinjaman berbunga itu dapat mengatasi ketidakmampuan membeli rumah secara tunai. Jika pun keberuntungan, di baliknya ada kebodohan—karena dilakukan oleh jutaan orang, bukankah ini kebodohan yang meluas?

Semua akar persoalannya ada pada riba. Riba pula yang dijadikan solusinya. Riba, biang segala persoalan hidup manusia, telah mengakibatkan orang kebanyakan tidak mampu memiliki rumah dengan uang sendiri, dan memaksanya untuk meminjam uang dari bank. Bagi orang Islam, membeli dengan KPR bukan hanya menjeratnya dalam utang jangka panjang. Namun yang lebih buruk dari itu—dan inilah yang saya sesali—juga telah menenggelamkan umat Islam dalam kubangan lumpur bunga bank alias riba!

Riba telah mengakibatkan seluruh beban kehidupan menjadi semakin tidak tertanggungkan. Biaya dan harga apa pun menjadi berlipat ganda akibat riba. Bersamaan dengan bank memasarkan KPR, semakin banyak tanah yang dikuasai oleh para bankir melalui para developer. Akibatnya, memiliki rumah dengan uang sendiri menjadi sebuah kemewahan.

Harga rumah semakin tidak terjangkau. KPR yang semula ditujukan untuk rumah tipe 70 harus diturunkan untuk tipe 60. Turun lagi menjadi tipe 45, lalu tipe 36, dan terus mengecil menjadi tipe 21. Karena harganya makin mahal, rumah tipe 21 itu pun hanya bisa dibeli oleh sedikit orang. Selain tipenya mengecil dan harganya makin mahal, letak rumah kreditan juga makin jauh lokasinya, sehingga lebih banyak lagi keluar biaya transportasi.
Dua Kali Lebih Mahal

Rumah saya diperoleh dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebuah bank konvensional. Akad dilakukan pada Oktober 1996. Jangka waktu KPR 20 tahun. Rumah kreditan itu—tipe 36 dan luasnya 91 m2—ada di timur laut Yogyakarta, sekitar 30-an menit berkendara dari kota Yogya.

Dalam brosur, developer menyebutkan uang mukanya Rp 6,8 juta. Ternyata belum termasuk pajak penjualan Rp 2,25 juta (10 persen dari plafon KPR), biaya pemasangan instalasi listrik dan air minum, premi asuransi kebakaran serta saldo minimal rekening tabungan (sekitar Rp 500 ribu) yang harus ada sebagai syarat mengambil rumah itu—saldo minimal itu dana beku yang baru bisa diambil setelah KPR lunas.

Selain harus melampirkan dokumen administratif: kopi KTP dan Kartu keluarga, slip gaji dari yang dikeluarkan tempat kerja saya, membayar biaya administratif akad kredit dan premi asuransi kebakaran, serta uang muka minimal sepertiga jumlah gaji bulanan. Hitung punya hitung, uang muka dan biaya-biaya yang harus saya bayar akhirnya mencapai hampir Rp 14 juta. Ini berarti dua kali lebih besar daripada jumlah uang muka yang tercantum dalam brosur promosi rumah kreditan itu. Saya karyawan swasta, dan rumah yang saya inginkan itu katanya tergolong rumah non-RSS. Maka, saya harus membelinya dengan KPR Paket C yang suku bunganya komersial (waktu itu sekitar 19 persen/tahun, bunga menurun). Jika terlambat mengangsur, saya harus membayar dendanya, sebesar 10 persen dari jumlah angsuran bulanan.

Angsuran KPR pada lima tahun pertama jumlahya sekitar Rp 260 ribu per bulan. Pada tahun ke-15 (2011) mengecil menjadi sekitar Rp 190 ribu. Jika angsuran bulanan dirata-rata Rp 200 ribu per bulan saja, berarti saya telah membayar sekitar Rp 36 juta (Rp 200 ribu x 180 bulan).

Plafon KPR saya Rp 22,5 juta. Ditambah uang muka dan biaya administrasi dan persyaratan KPR, berarti harga rumah itu, waktu itu, sebenarnya sekitar Rp 36,5 juta. Jadi, telah saya hitung, pada angsuran ke-180 (tahun ke-15) sebenarnya saya tinggal menambah sekitar Rp 500 ribu saja untuk menggenapi jumlah yang sama dengan harga rumah itu.

Namun kenyataannya, saya masih harus mengangsur lima tahun lagi. Dengan asumsi angsuran bulanan rata-rata Rp 150 ribu, saya masih punya utang hampir Rp 9 juta. Dengan demikian, rumah tipe 36 itu harus saya beli sekitar Rp 45,5 juta (Rp 36,5 juta + Rp 9 juta), atau sekitar dua kali jumlah KPR yang saya peroleh.

Saya tidak menyesali jumlah uang yang telah atau harus saya bayarkan lebih dari dua kali harga rumah itu dibandingkan jika saya dulu membayarnya secara kontan. Toh, rumah tetangga setipe rumah saya, pada 2011 dijual dengan harga sekitar Rp 100 juta. Yang saya sesali, kredit bank itu telah mengikat saya dengan riba jangka panjang. Selama kredit itu belum saya lunasi, selama itu pula saya akan terlibat dalam riba bunga bank!

Daripada saya harus berada dalam kubangan riba bank selama 20 tahun, satu-satunya keinginan saya adalah melunasi kredit jangka panjang berlumur riba itu. Saya ingin bebas dari riba jahanam yang tercipta akibat kebodohan saya membeli rumah dengan kredit bank jangka panjang itu.

Di hari saya melunasi utang jangka panjang dan menutup rekening tabungan, bank itu akan kehilangan seorang nasabah. Saya yakin bank itu tidak bersedih, karena hanya kehilangan satu orang nasabah. Tapi saya akan sangat bahagia karena terbebas dari riba dan utang.

Saya bertawakal. Semoga Allah Ta’ala mengabulkan doa saya untuk segera bebas dari utang jangka panjang itu.***

*Nasabah KPR bank konvensional, tinggal di Sleman.
======================================

Disalin dari http://pengusahamuslim.com/5507-kpr-cara-bodoh-membeli-rumah.html

Agar KPR Syariah Tetap Syariah

KPR dan IMBT

KPR bank syariah harus benar-benar menerapkan ketentuan Ijaarah Al-Muntahiyah Bit-Tamlik. Agar terhindar dari dua transaksi berbeda dalam satu waktu pada satu barang yang sama yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh Ustad Kholid Syamhudi, Lc

kpr syariah
credit http://pengusahamuslim.com/wp-content/uploads/2016/09/kpr-syariah-tidak-syariah-415×260.jpg

Gara-gara inflasi, harga rumah melambung tinggi dan tidak terbeli. Bank konvensional menawarkan Kredit Kepemilikan rumah (KPR) bagi mereka yang tidak mampu membeli rumah secara tunai karena harganya terus meninggi. Celakanya, nafsu memiliki rumah sendiri tidak memandang halal-haramnya KPR. Tak peduli bahwa bank sebenarnya sedang menjebloskannya dalam utang jangka panjang. Yang sadar bahwa KPR bermasalah secara syariah, melirik produk KPR bank syariah yang diberi label Ijaarah Al-Muntahiyah Bit-Tamlik (IBMT). Apa pula ini?

Sebagian ekonom syariah mendefinisikan IBMT sebagai sewa yang diakhiri dengan pemindahan pemilikan barang. Sejenis perpaduan antara kontrak jual-beli dan sewa, atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan penyewa. Dalam ungkapan lain, IMBT merupakan akad sewa-menyewa antara bank syariah dan nasabahnya disertai opsi kepemilikan barang bagi nasabah di akhir masa sewa.

IBMT dapat dilustrasikan begini. Pak Ahmad ingin memiliki rumah. Dia menyampaikan maksudnya ke bank. Terjadilah akad IMBT. Bank membeli rumah secara tunai dari developer seharga Rp 200 juta atas nama bank. Bank lalu menyewakan rumah itu ke Pak Ahmad selama 10 tahun dengan biaya sewa Rp 2,5 juta per bulan. Setelah masa sewa berakhir, rumah itu diserahkan ke Pak Ahmad. Jadi, total biaya sewa yang disetorkan Pak Ahmad Rp 300 juta.

Agar IMBT Tidak Melanggar Syariat

Para ulama yang tergabung dalam Majlis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami internasional, yakni bagian dari Munazhomah Al-Mu’tamar Al-Islami (OKI) dalam daurahnya yang ke-12 di Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia[1] menjelaskan kriteria IMBT yang tidak melanggar syariat. Mereka melakukan muktamar dengan melihat makalah-makalah yang disampaikan kepada Al-Majma’ terkait masalah sewa yang berakhir dengan pemilikan yang disebut IBMT.

Majlis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami membagi IMBT menjadi dua. Pertama, IMBT yang terlarang adalah dua transaksi berbeda pada satu waktu pada satu barang sama. Berdasarkan kaidah ini, beberapa bentuk IMBT yang terlarang adalah:

  1. Transaksi sewa yang berakhir dengan kepemilikan barang yang disewa secara langsung, sebagai kompensasi (imbalan) pembayaran yang diberikan nasabah selama masa sewa dan tanpa dilakukan lagi transaksi baru. Sewa berubah secara otomatis sebagai jual-beli di akhir masa sewa. Dari ilustrasi di atas, Pak Ahmad langsung mendapatkan rumah itu setelah 10 tahun menyewa, tanpa akad yang baru dengan bank.
  2. Bank menyewakan rumah ke nasabah Rp 300 juta selama 10 tahun. Bersamaan dengan itu, bank melakukan akad jual-beli rumah itu dengan harga sebagaimana biaya sewa selama 10 tahun. Atau ditambahkan masa tenggangnya di masa mendatang.
  3. Bank melakukan akad sewa-menyewa murni dengan nasabah namun digabung dengan jual-beli disertai khiyar syarat (hak pilih) untuk kepentingan yang menyewakan (al-Mu`jir) berupa jangka sewa dibuat sangat lama, tanpa ada kesepakatan rentangnya.

Kedua, ketentuan bentuk-bentuk IMBT yang diperbolehkan:

  1. Dua transaksi (sewa dan jual-beli) dilakukan secara terpisah, dan transaksi jual-beli dilakukan setelah transaksi ijarah(sewa-menyewa).
  2. Atau ada janji kepemilikan di akhir masa sewa dan hak khiyar yang statusnya setara dengan janji tersebut.
  3. Transaksi sewa benar-benar dilakukan dan bukan sebatas kamuflase (satiirah) jual-beli
Konsekuensi dari ketentuan ini adalah:
  1. Barang yang disewa murni di bawah tanggung jawab pemilik, sehingga semua risiko di luar keteledoran nasabah, menjadi tanggungan pemilik (bank).
  2. Jika barang ini diasuransikan, melalui asuransi ta’awuni syariah, yang bertanggung jawab membayar premi asuransi adalah bank, bukan nasabah.
  3. Berlaku hukum sewa-menyewa selama masa sewa belum berakhir, dan berlaku hukum jual-beli ketika bank menjual barang yang disewakan itu ke nasabah.
  4. Biaya pemeliharaan barang menjadi tanggung jawab pemilik (bank) dan bukan penyewa.
Berdasarkan ketentuan tersebut, Majma’ Fiqh Islami menetapkan beberapa bentuk IMBT yang memenuhi standar halal, sebagai berikut:
  1. Akad sewa-menyewa yang dengannya penyewa berhak memanfaatkan barang sewa dengan imbalan uang sewa yang telah ditentukan dan dengan masa sewa yang telah ditentukan pula. Akad sewa ini diiringi akad hibah barang yang disewa kepada penyewa, namun dengan syarat bila ia berhasil membayar seluruh uang sewa (Model ini sesuai dengan keputusan Majma’Ffiqh Islami tentang akad hibah 13/1/3 pada putaran sidang ke-3).
  2. Berikutnya adalah akad ijarah dan setelah akad sewa berakhir dan penyewa melakukan pembayaran seluruh uang sewa selama masa sewa yang disepakati, pemilik barang memberi pilihan/mengajukan penawaran kepada penyewa untuk membeli barang yang ia sewa dengan mengikuti nilai jual yang berlaku di pasar.
  3. Kemudian akad sewa yang dengannya penyewa diberi keleluasaan untuk memanfaatkan barang sewa dengan imbalan uang dan masa sewa yang disepakati. Setelah pelunasan akhir cicilan uang sewa pemilik barang berjanji menjual barang sewa kepada penyewa dengan harga yang disepakati oleh kedua pihak.
  4. Akad sewa, yang dengannya penyewa berwenang memanfaatkan barang sewa dengan membayar uang sewa selama masa tertentu. Dan pemilik barang memberi penawaran kepada penyewa untuk membeli barang sewa kapanpun ia mau, namun akad jual-beli dilangsungkan pada saatnya dengan akad baru dan dengan nilai jual yang berlaku di pasar kala itu (Selaras dengan keputusan Al-Majma’ yang telah lalu No: 44/(5/6) atau dengan nilai jual yang disepakati pada waktunya).

Hal yang senada juga difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) No.27/DSN-MUI/III/2002 tentang IMBT yang mengharuskan terlaksananya akad ijarah dulu, lalu akad pemindahan kepemilikan (jual-beli/hibah) hanya dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai. Karena itu janji pemindahan kepemilikan di awal akad ijarah hanya sebatas al-wa’du atau janji yang sifatnya tidak mengikat. Sehingga jika janji tersebut ingin dilaksanakan, harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa ijarah (sewa) selesai.[2]

Demikian ketentuan IMBT yang seharusnya diterapkan dalam KPR berbasis syariah, sehingga dapat terhindar larangan adanya dua transaksi berbeda dalam satu waktu pada satu barang yang sama. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jual-beli dalam satu jual beli (HR. Turmudzi).

KPR bank syariah bagaimana?KPR syariah di negeri ini, jika memenuhi kriteria IMBT yang dibolehkan sebagaimana keterangan di atas, hukumnya boleh.

Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju terwujudkan KPR murah berbasis syariah. Wabillahittaufiq.***

Pull Quote:

“Ijaarah Al-Muntahiyah Bit-Tamlik (IBMT) adalah sewa yang diakhiri dengan pemindahan pemilikan barang. Sejenis perpaduan antara kontrak jual-beli dan sewa, atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan penyewa. Dalam ungkapan lain, IMBT merupakan akad sewa–menyewa antara bank syariah dan nasabahnya disertai opsi kepemilikan barang bagi nasabah di akhir masa sewa.”

Keterangan:

[1] Pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 5 Jumada al-akhirah 1321 Hijriyah hingga awal bulan Rajab 1421 H = 23-28 September 2000 M
[2] Fatwa ini disampaikan penulis secara bebas tidak terikat dengan teks fatwanya yang asli.

==============================================

Disalin dari http://pengusahamuslim.com/5501-agar-kpr-syariah-tetap-syariah.html tanpa ada pengeditan atau pengubahan konten.

Kiat-kiat Memasarkan Properti yang Efektif (2/2)

Lanjutan dari Bagian ke-1

9.  Greeting card access

Kirimkan kartu Ucapan kepada pelanggan sebagai tanda terima kasih atau ucapan hari-hari besar, sementara didalamnya  bisa di beri info event atau hadiah yang akan membuat mereka tertarik. Kirimkan kartu ini kepada pelanggan setiap terjadi pemesanan atau pembelian.

10. Friendship gathering

Carilah tempat kumpul-kumpul yang menyenangkan. Selenggarakan Gathering di daerah yang berdekatan dengan target konsumen. atau anda bisa juga menghadiri suatu acara komunitas yang sesuai produk Anda. Pertemuan langsung serta waktu yang cukup dapat membantu proses pengenalan produk Anda dan Peluang lebih besar akan diperoleh bila berhasil menemui calon pembeli dan mendiskusikannya dengan tuntas.jual properti

11. Local Blast Publishing

Gabungkan kekuatan radio atau koran lokal dengan kekuatan komunikasi modern seperti oudoor ads  dengan memberikan kesempatan berinteraksi dengan produk Anda, atau membuat program hadiah kecil dari respon konsumen, dari hal ini bisa harapkan kedatangan konsumen untuk mengambil hadiah ke kantor marketing Anda.

12. Front  Roads Customer Service dan Layanan setiap waktu

Ini adalah ujung tombak paling dekat dengan customer, Booth di tepi jalan atau di area Pengisian bensin, Public Rest Area atau Gerbang masuk area komersial seperti Shopping center atau Taman Hiburan Umum. buatlah tempat yang nyaman dan memberikan “Stop & Rest Point” seperti kursi atau tenda beristirahat.

Anda juga akan siap memberikan waktu transaksi yang luas bagi konsumen dengan bersedia melakukan transaksi kapan saja.

13.  Promosi pertemanan

Promosi dari mulut ke mulut (Word-of-Mouth)  masih menjadi kekuatan terbesar dalam penjualan. Orang lebih percaya teman-teman dan keluarga mereka. Berikan reward kepada pelanggan setia yang membawa orang-orang baru ke dalam Link Anda dan mendorong karyawan atau kolega yang lain untuk menyebarkan berita ke lingkungan mereka.

Hal ini dapat meningkatkan jangkauan pemasaran Anda dengan program referral ke dalam daftar email marketing dan media sosial

14. Digital marketing

Saat ini Digital Marketing dapat diandalkan membantu penyebaran informasi produk. Anda dapat Melakukan marketing secara Digital Line melalui SMS, Broadcast Media Massage atau TV cable, begitu juga dengan Online Marketing di Internet yang kini menjadi salah satu cara efektif dan murah yang dapat diperoleh memasang Pesan Iklan di Social Media atau iklan Jual Beli Rumah. Selain murah, mereka bisa dengan mudah dan fleksibel menayangan iklan properti di berbagai website. Ketika internet sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, mereka pun bisa melihat iklan anda kapan saja dan dimana saja.

15.  Hadiah yang realistis

Siapkan hadiah untuk jenis penjualan tertentu dan mekanisme yang baik. Hadiah sebaiknya yang benar-benar menarik dan fungsional,  bisa berhubungan dengan kebutuhan penggunaan produk itu sendiri seperti AC, Security Sytem atau perangkat pendukung operasional lainnya. Atau hadiah menarik seperti Tour keluar negeri, Mobil yang bagus, Koin Emas dan lainnya yang sesuai dengan nilai yang dikeluarkan konsumen dan dapat digunakan secara langsung. Semakin cepat dan mudah sebuah Hadiah dapat digunakan, akan semakin tertarik konsumen untuk mendapatkannya.

16.  CSR (Corporate Social Responsibility)

Dengan menunjukkan rasa peduli Brand Anda terhadap isu di sekitar masyarakat/target market dengan melakukan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) sambil mempromosikan  Produk yang ingin dipromosikan. Dengan kegiatan ini, brand Anda akan mendapatkan image baik dan disukai oleh masyarakat.

Well, ini adalah trik umum yang bisa dilakukan dengan tidak sulit. Banyak sekali strategy yang lebih luas sebagai  pola mempromosikan produk ini. Saya berharap Anda dapat menemukan cara-cara baru yang lebih tepat dan jitu dan dapat membagi pengetahuannya kepada teman-teman dan Team.

Semoga Sukses.

====================================

Disalin dari http://klopidea.com/trik-memasarkan-property-yang-akan-disukai-oleh-konsumen/ dengan pengubahan hanya di judul artikel

Kiat-kiat Memasarkan Properti yang Efektif (1/2)

jual properti
credit http://www.sbpuneproperties.com/wp-content/uploads/2015/09/pro_mngt2.jpg

Memasarkan properti memang tak semudah yang dibayangkan. Terkadang properti yang baik pun sulit dijual, lantaran strategi marketing yang kurang tepat pada sasaran yang sebenarnya.  Strategi promosi yang sudah dijalankan tentunya menjadi dasar dari program promosi Utama seperti Advertising  (Iklan dan MediaPlace) & Marketing Tools ( Media Cetak, Oudoor dan Sales Promotion Equipment)

Namun ada beberapa strategi yang sering tidak dilakukan karena program promosi yang kurang detail atau karena keterbatasan dukungan dari Team Marketing Communication.

Untuk mempermudah penjualan properti dengan Deep penetration langsung kepada konsumen disamping cara-cara promosi umum yang sudah dilakukan, ada kiat-kiat efektif yang bisa Anda coba :

1. Pengetahuan Sejarah dan perkembangan lingkungan

Kita  perlu mengetahui sejarah dan perkembangan dari sebuah kawasan, waktu mulai pembangunan kawasan, akses yang sudah ada dan akan dibuat. Blok atau klaster yang ditawarkan pertama, tahap-tahap progress pembangunan. Pembangunan fasilitas yang sudah ada, peningkatan harga dari pengembang dan nilai investasi. sampai mempelajari komunitas yang sudah ada di area tersebut. ini mempengaruhi keinginan untuk bergabung dan rencana-rencana masa depan gaya hidup konsumen itu sendiri.

2.  Kejelasan bentuk Unit

Saat memasarkan produk properti, buatlah gambaran virtual dari unit dengan sangat jelas dan lengkap seperti Artist Impression yang bagus atau maket yang sempurna. bila perlu buatlah Unit contoh atau Show Unit, konsumen akan merasa telah melihat project yang sesungguhnya dan menarik minatnya untuk ingin memiliki.

Banyak kelemahan yang ditimbulkan dari persiapan ini sehingga bisa menurunkan kredibilitas produk maupun developernya.

3.  Memperhitungkan setiap detail kelebihan-kelebihan produk.

Perhatikan hal2 yang penting bagi pelanggan. Harga jual minimal. Akses alternatif terhadap kemacetan lalu lintas. Siapa peminat berikutnya ketika akan dijual kembali, project lain yang sudah ada dan terintegrasi, Arah hadap bangunan, fisik dan pengembangan bangunan yang lebih baik. dan lainnya.
Bila kita sudah memahami hal penting yang sudah ada, perhatikan hal kecil terkait dengan hal itu.

4.  Konsep dan Tema Arsitektur yang memahami konsumen

Setiap konsumen punya impian tersendiri dengan bangunan dan konsep tinggal yang diminatinya.

Tema arsitektur juga berhubungan dengan disain antar ruang dari bangunan, pencahayaan alami dan tambahan, permainan warna yang elegan. Disain antar ruang menjamin kenyamana lalu lintas penghuni dalam berpindah ruangan sehingga penghuni menjadi nyaman untuk menempati. Apabila Tema arsitektur produk sudah terlanjur dikembangkan, Anda bisa mencari poin-poin tambahan lain yang bertujuan memberi kemudahan-kemudahan dan kenyamanan penghuninya.

Dalam mendisain, seorang arsitek berpengalaman juga memperhatikan lingkungan sekitar. Seperti arah matahari, posisi taman dan lain sebagainya

5.   Harga dan Cara bayar yang mudah

Pas, Mudah dan Cepat, Harga yang kompetitif sangat penting, Bentuk dari harga yang kompetitif ini adalah relatifitas dari kondisi dan Treatment yang dipersiapkan dalam pengembangan produk ini. Ada kelebihan-kelebihan tertentu yang akan ditambahkan untuk menempatkan harga yang kompetitif berdasarkan produk yang sudah atau sedang dijual dan bagaimana mekanisme cara bayar yang semudah mungkin yang disesuaikan dengan kemampuan konsumen.

6.  Media Promosi yang disesuaikan dengan kondisi konsumen.

Iklan di koran atau memasang spanduk bukan lagi dianggap pemasaran yang optimal. Anda harus tahu kapan dan di media mana sebaiknya beriklan. iklan di majalah property merupakan media yang cukup baik untuk beriklan. Saat ini media berbasis internet yang bergerak dibidang property juga sudah semakin banyak digunakan untuk pemasaran..

7. Sale on Project Location (Open House)

Sebagian besar konsumen yang sedang berburu properti lebih banyak tertarik untuk mengunjungi lokasi sebuah properti. Bagi mereka, ini sangat penting karena mereka dapat melihat sendiri kenyataan yang ada pada properti yang diminati. Jika harapan mereka terpenuhi, kemungkinan akan terjadi keputusan untuk membeli. Karena itu, trik open house dianggap sebagai salah satu cara untuk membangun kepercayaan antara anda dan konsumen.

8.  Continued Call Progress

Konsumen sebenarnya akan menghargai inisiatif Anda untuk menelpon pada saat yang tepat. Anda akan dinilai propfesional dan punya perhatian padanya. Hampir 90% dari keputusan membeli tidak langsung didapat pada saat yang singkat, tapi melalui Follow Up Customer. ini adalah salah satu Proses yang sangat penting dalam penjualan property.

Bersambung ke Bagian Ke-2

 ====================================

Disalin dari http://klopidea.com/trik-memasarkan-property-yang-akan-disukai-oleh-konsumen/ dengan pengubahan hanya di judul artikel